Kamis, 07 Juni 2012

Contoh Analisis Gaya Bahasa Perbandingan Dan Pertentangan dalam Koran

ANALISIS GAYA BAHASA PERBANDINGAN DAN PERTENTANGAN DALAM KORAN KENDARI POS EDISI 5 NOVEMBER 2011

OLEH

A R W A H I D




JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011


KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
          Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya lah sehingga makalah sederhana ini dapat terselesaikan dengan baik tanpa ada kendala yang terlalu berarti.
           Makalah ini membahas tentang gaya bahasa perbandingan dan perumpamaan yang digunakan oleh jurnalis dalam menyampaikan berita melalui koran khususnya koran Kendari Pos edisi Sabtu, 5 November 2011 pada kolom Berita Utama dan Opini.
          Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnan. Oleh karena itu penulis dengan hati terbuka menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun dari para pembaca.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan dan manfaat bagi yang membutuhkannya walaupun hanya sedikit.
Wasalam



                                                                                      Kendari, 21 November 2011

                                                                                   

                                                                                     Penyusun







BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
           Gaya bahasa merupakan cara mempergunakan bahasa secara imajinatif. Gaya bahasa dapat ditemukan dalam bentuk tulisan maupun lisan yang digunakan dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran pengarangnya.
         Seorang jurnalis pada dasarnya adalah seorang penulis atau pengarang yang menyampaikan informasi melalui media untuk dibaca oleh masyarakat. Seorang jurnalis, pada dasarnya tidak hanya menguasai teknik jurnalistik seperti aspek peliputan, tetapi juga disyaratkan menguasai teknik dan aspek-aspek kepenulisan terutama gaya bahasa agar pembaca tertarik dengan informasi yang disampaikan. Oleh karena itu makalah ini saya tulis untuk mengetahui gaya bahasa apa saja yang digunakan dalam koran Kendari Pos edisi Sabtu, 5 November 2011 pada kolom Berita Utama dan Opini.

1.2    Masalah
          Berdasarkan latar belakang di atas, maka pokok masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah ; 1) Apa yang dimaksud dengan gaya bahasa perbandingan dan pertentangan? ; 2) Gaya bahasa perbandingan dan pertentangan apa saja yang sering digunakan oleh para jurnalis ; 3) Jenis gaya bahasa apa saja yang digunakan dalam koran Kendari Pos Edisi 5 November 2011 pada kolom Berita Utama dan Opini?

1.3    Tujuan
          Tujuan penulisan makalah ini adalah ; 1) Untuk mengetahui pengertian gaya bahasa perbandingan dan pertentangan ; 2)Untuk mengetahui jenis gaya bahasa perbandingan dan pertentangan yang sering digunakan oleh para jurnalis ; 3)Untuk mengetahui jenis gaya bahasa yang sering digunakan dalam koran Kendari Pos edisi 5 November 2011 pada bagian Berita Utama dan Opini.
1.4    Manfaat
          Manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.4.1    Bagi penulis dapat menambah wawasan dalam hal penggunaan gaya bahasa oleh koran Kendari Pos edisi 5 November 2011 pada kolom Berita Utama dan Opini
1.4.2    Bagi pembaca dapat  menambah wawasan tentang gaya bahasa perbandingan dan pertentangan yang digunakan dalam koran Kendari Pos
1.4.2 Bagi media khususnya Kendari Pos dapat menjadi masukan dalam penggunaan gaya bahasa agar dapat mempertimbangkan sehingga tulisan dapat menjadi lebih menarik.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Gaya Bahasa
           Gaya bahasa atau majas adalah kata-kata yang berupa kiasan yang mengandung makna di dalamnya. Gaya bahasa sering digunakan dalam bentuk tulisan – misalnya surat kabar – oleh para jurnalis maupun lisan oleh pembicara untuk mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pembicara. Secara umum gaya bahasa yang digunakan dalam jurnalistik terdiri atas empat bagian, yaitu gaya bahasa perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan. Namun dalam pembahasan ini penulis hanya akan menguraikan dua pokok bahasan yaitu gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan.

2.1.1 Gaya Bahasa Perbandingan
          Gaya bahasa perbandingan adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang sama atau dua hal yang berbeda. Ada sepuluh jenis gaya bahasa perbandingan menurut Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan yaitu sebagai berikut :
1)     Perumpamaan
          Gaya bahasa perumpamaan merupakan gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berbeda sehingga dianggap memiliki unsur-unsur persamaan diantara keduanya. Para jurnalis hanya dapat  menggunakan gaya bahasa perumpamaan ini ketika menulis tajuk rencana, artikel, opini, kolom, berbagai jenis cerita khas berwarna (feature), catatan pejalanan, atau pelaporan mendalam (depth reporting) dan tidak boleh pada laporan berita langsung karena menurut kaidah jurnalistik gaya bahasa ini subjektif, sementara menurut etika jurnalistik, jurnalis tidak boleh bersikap subjektif. Contoh : dia rakus seperti monyet.
2)    Metafora
         Gaya bahasa metafora merupakan pemakaian kata-kata bukan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Metafora tersusun singkat, padat, rapi, dan mirip dengan ungkapan. Jurnalis menggunakan metafora secara fungsional dan variatif pada artikel, pojok,karikatur, dan feature. Contoh : buah bibir.
3)    Personifikasi
          Personifikasi merupakan gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep yang abstrak, berperilaku seperti manusia yang bisa menggerakan seluruh tubuhnya, berkata, bernyanyi, bersiul, belari, menari, dan lain-lain. Para jurnalis biasanya menggunakan gaya bahasa ini pada artikel, kolom, pojok, karikatur, laporan perjalanan, pada teks foto, dan feature. Contoh : nyiur melambai, mentari menciumi tubuh gadis itu.
4)    Depersonifikasi
         Depersonifikasi merupakan kebalikan dari personifikasi, depersonifikasi mengandaikan manusia atau segala hal yang hidup dan bernyawa sebagai benda-benda mati yang kaku beku. Dalam jurnalistik, gaya bahasa ini digunakan untuk menunjukkan situasi atau kondisi seseoang yang pasif. Biasanya yang didepersonifikasi adalah para pejabat tinggi yang mengalami tekanan psikologis. Contoh : dari tadi mantan gubernur itu mematung..
5)    Alegori
         Alegori merupakan cerita yang dikisahkan dalam lambang-lambang.. Alegori biasanya mengandung sifat-sifat moral atau spritual manusia yang biasanya berbentuk fabel. Dalam jurnalistik, gaya bahasa ini banyak ditemukan di majalah remaja dan anak-anak, karena tujuannya lebih banyak bersifat persuasif-edukatif daripada argumentatif-korektif. Contoh : kisah buaya yang tamak.
6)    Antitesis
       Antitesis adalah sejenis gaya bahasa yang mengadakan perbandingan antara dua antonim yaitu kata-kata yang mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan. Contoh : dia bersukacita kalau aku dipenjara.
7)    Pleonasme dan Tautologi
        Pleonasme adalah pemakaian kata mubazir atau berlebihan yang sebenarnya tidak perlu. Suatu kalimat dikatakan pleonasme apabila kata yang berlebihan itu dihilangkan, makna kalimat itu tetap utuh. Contoh : Rektor baru akan tiba pukul 16.00 sore. Kata sore meskipun dihilangkan tetap tidak mengubah arti kalimat tersebut. Lain halnya dengan tautologi, yaitu penegasan terhadap suatu hal yang mengandung unsur perulangan tetapi dengan menggunakan kata-kata yang lain. Contoh ; pencopet yang tewas dibakar masa itu kini tidak bisa gentayangan lagi di bus-bus umum. Kata gentayangan merupakan perulangan dari aktivitas pencopet (mencopet) tapi dengan kata-kata yang lain yaitu gentayangan,
8)    Perifrasis
        Perifrasis adalah sejenis gaya bahasa yang agak mirip dengan pleonasme. Kedua-duanya mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Bedanya adalah pada perifrasis, kata-kata berlebihan itu bisa diganti dengan satu kata saja. Contoh : hanya dengan petunjuk sangat berharga (nasihat) dari kiai kharismatik ia bisa mencapai prestasi seperti sekarang.
9)    Antisipasi (Prolepsis)
         Kata antisipasi berasal dari bahasa latin anticipatio yang berarti mendahului atau penetapan yang mendahului tentang sesuatu yang masih akan dikerjakan atau akan terjadi. Dalam jurnalistik, pemakaian gaya bahasa ini banyak ditemukan dalam berita olahraga/sepak bola karena menmpilkan berita sebelum, selama, dan sesudah pertandingan. Contoh : masih enam bulan lagi Piala Dunia 2011 digelar, tetapi Jerman sudah berlatih habis-habisan.
10)    Koreksio (Epanortosis)
        Koreksio merupakan gaya bahasa yang menegaskan sesuatu kemudian memperbaikinya atau mengoreksinya kembali. Gaya bahasa ini jarang digunakan dalam jurnalistik karena hanya untuk menghindari kejenuhan. Contoh : laki-laki pemulung itu pun mencintai, eh meniduri, sang nenek yang separu baya ini hingga subuh.
2.1.2    Gaya Bahasa Pertentangan
          Gaya bahasa pertentangan yaitu membandingkan dua hal yang berlawanan atau bertolak belakang. Gaya bahasa jenis ini cukup banyak ditemukan dalam berbagai karya jurnalistik. Ada dua puluh jenis gaya bahasa pertentangan menurut Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan. Namun karena masalah kegunaan dan popularitasnya di mata pemakai bahasa, maka hanya 12 jenis saja yang kita bahas yaitu sebagai berikut :
1)    Hieperbola
         Hiperbola adalah jenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya, ukuranya atau sifatnya, dengan maksud memberikan penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Meskipun  demikian, dalam kaitannya dengan jurnalistik, jurnalis tetap harus bersikap objektif, akurat dan berimbang karena jika tidak, maka bukan informasi akurat yang akan didapat khalayak melainkan penjelasan yang menyesatkan. Contoh : Jakarta nyaris tenggelam dilanda banjir.
2)     Litotes
        Litotes adalah majas yang dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Gaya bahasa ini mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, atau kebalikan dari hiperbola. Dalam jurnalistik, jurnalis harus hati-hati terhadap gaya bahasa ini karena narasumber yang menggunakan gaya bahasa ini biasanya orang-orang sukses yang luhur budinya dan tetap bersikap rendah hati. Contoh : jika ada waktu singgahlah di gubuk saya (padahal rumahnya seperti istana).
3)    Ironi
         Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud berolok-olok atau menyindir seseorang. Dalam jurnalistik, gaya bahasa ini biasanya digunakan untuk kontrol sosial media massa terhadap pemerintah sesuai amanat undang-undang. Contoh : meski sedang diadili dalam perkara korupsi, ia tetap mencalonkan diri menjadi gubernur.
4)    Oksimoron
        Oksimoron adalah jenis gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama. Dalam jurnalistik, oksimoron digunakan untuk mengingatkan berbagai pilihan yang ditempuh masyarakat sekaligus mengajarkan masyarakat untuk mengembangkan  sikap bertanggung jawab dan kemandirian. Contoh : dengan televisi kita bisa menghibur diri, tapi dengan televisi pula kita bisa bunuh diri.
5)    Satire 
         Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Dalam jurnalistik, satire saratdengan nuansa potret sosial.  Contoh : ajar kami agar pandai menipu rakyat.
6)    Inuendo
        Inuendo adalah jenis gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya, tapi tidak menyakitkan hati kalau ditinjau sepintas lalu. Contoh : pidatonya disambut dingin karena tidak menyinggung kenaikan gaji.
7)    Antifrasis
       Antifrasis adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya.. Dalam jurnalistik, biasanya berupa sindiran kepada seseorang. Contoh : inilah pahlawan kita (padahal penghianat).
8)    Paradoks        
       Paradoks adalah suatu pernyataan yang bagaimanapun diartikan akan selalu berakhir dengan pertentangan. Paradoks ini semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Dalam jurnalistik digunakan sebagai gamabaran tegas tokoh, narasumber, atau subjek cerita menghadapi tekanan tertentu. Contoh : Dia menderita dalam keluarga bahagia.
9)    Klimaks
       Klimaks adalah jenis gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan. Dalam jurnalistik, digunakan pada feature yang mengandung unsur kejutan, misteri, dan petualangan. Contoh: balita, remaja, dewasa, manula.
10)    Antiklimaks
         Antiklimaks adalah kebalikan dari gaya bahasa kliamks. Sebagai gaya bahasa, antiklimaks merupakan suatu acuan yang berisi gagasan-gagasan yang diurutkan dari yang terpenting berturut-turut kegagasan yang kurang penting. Contoh : rektor mengingatkan gelar sarajana yang diraih akan sangat penting maknanya apabila sejak esok hari para wisudawan tak bertopang dagu di teras rumah.
11)    Sinisme
        Sinisme adalah jenis gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Dalam jurnalistik gaya bahasa ini digunakan untuk menyajikan karya yang korektif yang dituangan dalam tajuk rencana, artikel, dan kolom. Contoh : apa yang tidak bisa Anda beli? Jangankan mobil dan rumah mewah, istri orang lain pun Anda sikat. Bahkan Negara ini besok lusa akan jadi milik anda. Kalau maua anda juga bisa menyebut diri sebagai Tuhan.
12)    Sarkasme
         Sarkasme adalah jenis gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedis dan menyakiti hati dan kurang enak didengar. Dalam jurnalistik, dilarang menggunakan gaya bahasa ini. Contoh : keempat pemerkosa yang sikap dan perilakunya sama seperti anjing ini sangat pantas dihukum mati.

2.2    Analisis
      Berikut analisis saya mengenai penggunaan gaya bahasa perbandingan dan pertentangan terhadap koran Kendari Pos edisi Sabtu 5 November 2011 pada kolom berita utama termasuk halaman lanjutannya pada halaman 2 dan 7 dan kolom opini pada halaman 4.

2.2.1    Gaya Bahasa dalam Koran Kendari Pos Edisi Sabtu 5 November 2011
1.    Perumpamaan
          Gaya bahasa jenis ini hanya digunakan pada kolom aneka halaman 7 sebagai lanjutan berita utama halaman 1 dengan judul sambungan datangkan… yang berbunyi ;” Jabatannya sebagai wali kota pun tak bisa menghambat ….”
Kata sebagai merupakan gaya bahasa perumpamaan.
2.    Metafora
1)    Pada kolom berita utama pada halaman 2 sebagai lanjutan berita utama pada halaman 1 dengan judul sambungan Massa… yang berbunyi ;”… pengunjuk rasa tiba-tiba menduduki pelabuhan….”
Kata menduduki pelabuhan merupakan gaya bahasa metafora karena menduduki pelabuhan bukan makna sebenarnya, melainkan makna kiasan. Maknanya sebenarnya adalah menguasai pelabuhan.
2)    Pada kolom opini  dengan  judul “Kampanye Komodo “Menjual” Nasionalisme” yaitu pada kalimat ; “Bahkan ada tuduhan yang bernada miring bahwa kampanye Komodo “menjual” nasionalisme.
Kata bernada miring dan menjual nasionalisme merupakan gaya bahasa metafora karena bukan makna sebenarnya. Masing-masing yang dimaksud adalah ; bernada miring maksudnya tidak enak didengar dan menjual nasionalisme maksudnya membawa nama Negara demi kepentingannya sendiri dan merugikan bangsa dan  Negara.
3)    Pada kolom tajuk rencana yaitu pada kalimat ; “…akan teratasi di tangan Dirut PLN yang baru.
Kata di tangan maksudnya adalah dalam masa kerja.
3.    Personifikasi.
Gaya bahasa jenis ini hanya digunakan pada kolom aneka halaman 7 sebagai  lanjutan berita utama halaman 1 dengan judul sambungan datangkan… yang berbunyi ; “Di mata Jokowi, musik rock memiliki kekuatan untuk membangkitkan semangat”
Kata memiliki kekuatan merupakan gaya bahasa personifikasi karena mengandaikan musik rock(benda mati)sebagai manusia yakni memiliki kekuatan.
4.    Depersonifikasi
Gaya bahasa ini hanya digunakan pada kolom opini tepatnya tajuk rencana yang berbunyi ;”Kekhawatiran masyarakat reda….”
Kata masyarakat reda merupakan gaya bahasa depersonifikasi karena kata reda sebenarnya digunakan untuk benda mati seperti hujan dan banjir tapi pada tajuk rencana ini digunakan untuk masyarakat sebagai benda hidup(kumpulan manusia)
5.    Pleonasme dan tautologi
1)    Pada kolom aneka halaman 7 yang berbunyi ;”… ketika dirinya kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.”
Kata/singkatan UGM adalah gaya bahasa pleonasme karena walaupun dihilangkan, makna kalimat tersebut tetap utuh.
2)    Pada kolom opini tepatnya tajuk rencana, banyak sekali ditemukan gaya bahasa tauotologi (perulangan sebuah kata dengan menggunakan kata yang lain) yaitu pada penggalan kalimat berikut:
a.    “… pejabat termuda yang pernah menjabat sebagai orang nomor wahid di kursi panas itu. Nomor wahid adalah tautologi dari kata Dirut PLN sedangkan kursi panas adalah kursi direksi.
b.    :.. perbaikan di perusahaan plat merah tersebut. Kata yang digarisbawahi adalah tautologi dari PLN.
3)    Pada kolom aneka halaman 7, juga banyak ditemukan tautologi, pada judul sambungan datangkan… yaitu :
a.    “… terhadap musik beraliran keras itu….” musik beraliran keras adalah tautologi dari musik rock.
b.    “… dari mulut orang nomor satu di Pemkot Solo itu. Kata  yang digarisbawahi adalah tautology Walikota Solo.
6.    Paradoks
Gaya bahasa ini hanya ada pada kolom tajuk rencana yaitu sebagai berikut:
a.    ”…sebagian masyarakat senang, tapi juga sedih.”
b.    “Sebuah keyakinan dan keraguan….”
Empat buah kata  di atas menunjukkan pertentangan kata
7.    Kimaks
Gaya bahasa ini hanya terdapat pada kolom opini yaitu :
a.    Pada tajuk rencana :“tak hanya muda, tapi integritas dan kapabilitasnya sudah teruji.”
b.    Pada kolom opini tentang Komodo ;” … dinilai tidak profesional, tidak konsisten, dan tidak transparan.”
Kata-kata di atas merupakan klimaks, yaitu urutan dari kata yang penting ke semakin penting.
Adapun gaya bahasa perbandingan dan petentangan yang tidak ada dalam koran Kendari Pos edisi Sabtu 5 November 2011 adalah sebagai berikut :
1.    Gaya bahasa Alegori
2.    Gaya bahasa antitesis
3.    Gaya Bahasa Perifrasis
4.    Gaya Bahasa Antisipasi
5.    Gaya Bahasa Koreksio
6.    Gaya Bahasa Hiperbola
7.    Gaya Bahasa Litotes
8.    Gaya Bahasa Ironi
9.    Gaya Bahasa Oksimoron
10.    Gaya Bahasa Ineundo
11.    Gaya Bahasa Satire
12.    Gaya Bahasa Antifrasis
13.    Gaya bahasa Antiklimaks
14.    Gaya bahasa Sinisme
15.    Gaya bahasa  Sarkasme

BAB III
PENUTUP

1.1    Kesimpulan
        Dari hasil analisis penulis terhadap koran Kendari Pos edisi Sabtu 5 November 2011 pada kolom Berita Utama dan Opini, hanya terdapat tujuh gaya bahasa yang digunakan yaitu lima gaya bahasa perbandingan dan dua gaya bahasa pertentangan. Gaya bahasa tersebut yaitu ; gaya bahasa perumpamaan, metafora, personifikasi, depersonifikasi, pleonasme-tautologi, paradoks, dan klimaks

1.2    Saran
1.2.1    Untuk memahami tentang gaya bahasa perbandingan dan pertentangan secara lebih luas dan lebih dalam sebaiknya pembaca membaca buku karangan Prof. Henry Guntur Tarigan tentang Tata Baku Bahasa Indonesia.
1.2.2    Untuk media yang selalu menggunakan gaya bahasa, janganlah terlalu membuat masalah kecil menjadi besar, usahakan informasi yang anda sampaikan tidak terlalu hiperbola.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar