Kamis, 07 Juni 2012

Contoh Analisis Naskah Drama Sepasang Merpati Tua Karya Bakdi Sumanto

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang

Sastra pada dasarnya merupakan jelmaan dari kehidupan nyata manusia. Memahami satra hampir sama nilainya dengan memahami hidup orang yang melahirkan sastra.
Dilihat dari segi jenisnya, karya sastra terbagi menjadi tiga yaitu puisi, prosa dan drama. Ketiga jenis karya sastra ini memiliki ciri dan kekhasan masing-masing. Sastra juga dianggap sebagai hal yang istimewa karena perpaduan imajinasi, kreativitas, kecakapan, pengetahuan, serta wawasan yang luas.
Dari ketiga jenis karya sastra ini, drama merupakan karya sastra yang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Drama terlahir dari penulis yang terinspirasi oleh realita dari kehidupan masyarakat sekitar penulis, baik dari pengalaman penulis sendiri maupun pengalaman orang lain.
Drama merupakan kisah kehidupan manusia yang dikemukakan di pentas berdasarkan naskah, menggunakan percakapan, gerak laku, unsur-unsur pembantu seperti dekor, kostum, rias, lampu, musik, serta disaksikan oleh penonoton. Drama yang termasuk sastra modern terbentuk dari beberapa unsur yang saling berkaitan dan saling mendukung. Unsur-unsur pembentuk drama ada dua, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.
Adapun kajian yang menjadi fokus pada makalah ini adalah tentang unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto. Hal penting dilakukannya kajian terhadap unsur-unsur pembentuk drama yaitu untuk mengetahui pesan yang hendak disampaikan pengarang dalam naskah drama, dan akan terwujud setelah nantinya menelaah stu persatu unsur drama serta ditariknya kesimpulan dari kajian ini.







1.2. Rumusan Masalah
Adapun yang akan menjadi permasalahan dan fokus yang akan dibahas yaitu:
1.2.1. Bagaimana unsur intrinsik dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi        Soemanto?
1.2.2. Bagaimana unsur ekstrinsik dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto?

1.3. Tujuan
          Adapun tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang ada dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto.

1.4. Manfaat

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari hasil analisis naskah drama ini adalah :

1.4.1. Sebagai bahan bacaan bagi peminat sastra pada dewasa ini
1.4.2. Sebagai apresiasi sastra
1.4.3. Sebagai bahan yang memudahkan penikmat sastra untuk memahami unsur pembentuk  karya sastra khususnya pada drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto















BAB II
PEMBAHASAN
Adapun unsur-unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang ada dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah sebagai berikut:

3.1.     Unsur Intrinsik

3.1.1. Tema
          Dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto temanya adalah sosio-politik. Ini bisa dilihat dari kutipan dialog yang bercetak tebal berikut :
Nenek    :    Nah, paling terhormat jadilah diplomat wakil republik kita tercinta di PBB…      (Kakek geleng kepala)
Nenek    :    Aku sungguh tidak mengerti cita-citamu, Pak.
Kakek    :    Aku ingin jadi diplomat yang diberi pos di kolong jembatan saja…
Nenek    :    Ah, gila. Itu pekerjaan gila.
Kakek    :    Banyak diplomat yang dikirim ke pos-pos manapun di dunia ini. Tapi
pemerintah belum punya wakil untuk bicara-bicara dengan mereka yang ada   di kolong jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka aku menyatakan diri. Maka aku menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini sebagai diplomat kolong jembatan.
Nenek    :    Tapi kau akan terhina
Kakek    :    Selama kedudukan adalah diplomat, di manapun ditempatkan sama saja terhinanya, sama saja mulianya
Nenek    :    Aku tidak rela kalau kau ditempatkan di pos terhina itu.
Kakek    :    Kau belum tahu, justru paling mulia di antara pos-pos di manapun juga.
Nenek    :    Kau sudah tidak waras.
Kakek    :    Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong.
Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong  jembatan itu perlu dibujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar dihalau, diusir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tidakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk.
3.1.2. Alur/Plot
Adapun alur yang ada dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah alur maju. Hal ini dapat kita lihat pada pengaluran berikut ini
1.    Nenek menyinggung pekerjaan kakek yang tidak lain hanyalah bersolek.
2.    Kakek membaca koran menyendiri dan nenek merasa diabaikan
3.    Nenek menghampiri kakek lalu duduk di sebelahnya dan menyandarkan kepalanya di bahu kakek sebelah kiri.
4.    Kakek merasa tindakan nenek adalah suatu demonstrasi
5.    Nenek merasa diolok-olok
6.    Kakek menyangkal prasangka nenek bahkan memuji tindakan nenek dengan membandingkan keberanian nenek dengan Ibu Kartini.
7.    Nenek mengatakan bahwa kakek berbicara seperti professor
8.    Kakek mengatakan memang dulunya dia bercita-cita ingin menjadi professor malah dikatakannya pula bahwa ia sudah berhasil meskipun tidak secara formal.
9.    Kakek merasa menjadi professor karena seringnya didatangi mahasiswa dan guru besar untuk mengajaknya diskusi.
10.    Nenek tidak setuju dengan cita-cita kakek menjadi professor, bahkan menyarankan agar kakek menjadi seirang diplomat.
11.    Kakek bersedia menjadi diplomat dan dia bersedia ditugaskan di pos mana saja.
12.    Nenek mengharapkan kakek ditempatkan di pos yang terhormat seperti di PBB.
13.    Kakek lebih bersedia jika ditempatkan sebagai wakil pemerintah untuk berbicara kepada mereka di bawah kolong jembatan.
14.    Nenek tidak mau karena gengsi.
15.    Nenek tiba-tiba tidak setuju kalau kakek menjadi diplomat
16.    Kakek pergi mengambil teko, menuang kopi, lalu meminumnya.
17.    Nenek memandang tindakan kakek yang membuka toples lalu memakan makanannya.
18.    Nenek mengomentari tndakan kakek yang kurang sopan dan menganggap kakek sudah ingin pindah pekerjaan
19.    Kakek ingin menjadi teknokrat
20.    Nenek menyarankan teknkrat dalam bidang ekonomi, politik, dan militer.
21.    Kakek lebih memilih menjadi teknokrat dalam bidang persampahan
22.    Nenek mempertanyakan pikiran kakek yang bukan-bukan.
23.    Kakek mengatakan bahwa tak sanggup lagi melihat kenyataan-kenyataan yang hanya tipuan belaka.
24.    Nenek semakin pusing mendengar bicara kakek.
25.    Kakek menjelaskan bahwa tokoh-tokoh seperti Aristoteles, Chairil Anwar dan lain-lain harus dipancarkan kembali karya mereka.
26.    Nenek menyuruh kakek menyudahi bicara kakek yang bukan-bukan nanti penyakit napas kakek kambuh lagi.
27.    Nenek bertanya kepada kakek kapan mereka akan mati
28.    Kakek mengatakan mereka harus bersiap-siap.
29.    Lonceng berbunyi dua belas kali.
30.    Nenek tidak mengerti dengan loceng yang berbunyi
31.    Kakek mengatakan bahwa kebiasaan, ukuran, dan konsep tidak terlalu cocok.
32.    Nenek tidak paham dan menanyakan cara untuk mengerti maknanya
3.1.3. Tokoh dan Penokohan.

          Adapun tokoh yang terdapat dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto ada dua orang, yaitu kakek dan nenek.
Penokohan dalam drama ini yaitu tokoh kakek digambarkan sebagai lelaki yang cerdas, kritis terhadap pemerintah, peduli terhadap rakyat kecil dan masyarakat sekitar. Agar lebih jelasnya saya akan memaparkan kutipan dialog yang memperkuat argumen saya tentang karakter kakek satu persatu. Untuk karakter kakek yang cerdas dapat dibuktikan pada kutipan dialog yang bercetak tebal berikut :
Nenek    :    Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini?
      Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh. Hu… hu… hu…
Kakek    :    Bukan maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani.
Nenek    :    (Tiba-tiba berhenti manangis). Berani? Aku pemberani?
Kakek    :    Ya, kau pantas disejajarkan dengan ibu kita kartini.
Nenek    :    Ibu Tin?
Kakek    :    Bukan, bukan bu tin, Ibu kita Kartini.
Nenek    :    Tetapi, kan ibu kita Kartini juga bisa kita sebut Bu Tin, kan. Apa salahnya?
Kakek    :    Hush, diam! Ingat ini di depan orang banyak. Maka jangan main    semborono dengan sebutan-sebutan yang multi interpretable….

    Selanjutnya karakter kakek yang kritis terhadap pemerintah dapat dibuktikan pada dialog yang bercetak tebal berikut :
Kakek    :    Aku ingin jadi diplomat yang diberi pos di kolong jembatan saja…
Nenek    :    Ah, gila. Itu pekerjaan gila.
Kakek    :    Banyak diplomat yang dikirim ke pos-pos manapun di dunia ini. Tapi
pemerintah belum punya wakil untuk bicara-bicara dengan mereka yang ada   di kolong jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka aku menyatakan diri. Maka aku menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini sebagai diplomat kolong jembatan.
Selanjutnya untuk karakter kakek yang peduli terhadap masyarakat dapat dibuktikan pada kutipan dialog yang bercetak tebal berikut :
Nenek    :    Tapi kau akan terhina
Kakek    :    Selama kedudukan adalah diplomat, di manapun ditempatkan sama saja terhinanya, sama saja mulianya
Nenek    :    Aku tidak rela kalau kau ditempatkan di pos terhina itu.
Kakek    :    Kau belum tahu, justru paling mulia di antara pos-pos di manapun juga.
Nenek    :    Kau sudah tidak waras.
Kakek    :    Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong  jembatan itu perlu dibujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar dihalau, diusir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tidakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang    bisa membujuk…
               Sedangkan karakter kakek yang peduli terhadap lingkungan sekitar dapat dibuktikan pada dialog yang bercetak tebal berikut :
Nenek    :    Mau pindah pekerjaan?
Kakek    :    Ya.
Nenek    :    Apa?
Kakek    :    Teknokrat.
Nenek    : Gila.
Kakek    :    Aku mau jadi teknokrat dalam bidang….
Nenek    :    Ekonomi?
Kakek    :    Bukan!
Nenek    :    Politik?
Kakek    :    Bukan
Nenek    :    Militer?
Kakek    :    Bukan
Nenek    :    Lalu apa?
Kakek    :    Bidang persampahan
Nenek    :    Apa?
Kakek    :    Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya…
(Nenek termenung)

    Sedangkan karakter tokoh nenek digambarkan sebagai wanita yang romantis, gengsi, dan cengeng. Sama halnya dengan karakter kakek, agar lebih jelasnya akan saya uraikan pembuktiannya satu persatu melalui kutipan dialog. Untuk karakter nenek yang romantis, tergambar pada dialog yang tercetak tebal berikut

Nenek    :    (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk di sebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
Kakek    :    Gila. Malah demonstrasi.
Nenek    :    Sekali waktu memang perlu.
Kakek    :    Ya, tapi kan bukan untuk saat ini?
Nenek    :    Kukira justru!
Kakek    :    Duilah apa-apaan ini.
Nenek    :    Agar orang tetap tahu, aku milikmu.
Kakek    :    Siapa mengira kita sudah cerai?
Nenek    :    Ah, wanita. Bagaimanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut    kehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan.

          Selanjutnya karakter nenek yang cengeng dapat dibuktikan pada dialog yang bercetak tebal berikut :
Nenek    :    Ah, wanita. Bagaiamanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke
kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takutkehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan.
Kakek    :    Bagus!
Nenek    :    Apa maksudmu?
Kakek    :    Tindakan terpuji, itu namanya.
Nenek    :    He, apa sih maksudmu, Pak?
Kakek    :    Mengaku dosa di depan orang banyak!
Nenek    :    Hu… hu… hu… (Menangis)
Kakek    :    He, ada apa kau, Bu? Ada apa? Digigit namuk rupanya?
Nenek    :    Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini?
       Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh.
Hu…hu… hu…

          Selanjutnya karakter gengsi nenek dapat dibuktikan pada dialog yang bercetak tebal berikut :
Nenek    :    Ah… bagaimana, nanti kalau aku arisan dan ditanya teman-teman
      bagaiamana jawabku, Pak. Coba bayangkan, bayangkan…
Kakek    :    Istriku, aku mengerti, bagaimana kau akan turun gengsi nanti. Tapi kau tidak.
usah khawatir, kalau kau datang ke arisan yang lima ribuan, dan kau ditanya orang-orang apa pekerjaanku jawab saja diplomat, titik. Kolong jembatannya tidak usah disebut, kalau kau datang ke arisan yang seratusan, saya kira tak ada salahnya kalau kau ngomong diplomat kolong jembatan…
Nenek    : Tapi kalau teman-teman arisan lima ribuan tanya, di mana posnya…?
Kakek    :    Ah… (memegangi kepala). Begini, diplomat bagian sosial… hebat toh?
Nenek    :    Masak ada diplomat sosial?
Kakek    :    kau ini bagaimana, diplomat itu serba mungkin asal kau pintar main lidah,
beres. Coba, kau kan tahu ada diplomat pimpong, ada diplomasi SPP, diplomasi macam-macam saja ada.
3.1.4. Latar/Setting
Adapun latar (latar waktu dan tempat) yang ada dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah di ruang tengah menjelang malam. Ini dapat dibuktikan pada penggalan narasi drama yang bercetak tebal di bawah ini yaitu :
“Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak di tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.
Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-bentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam”.

3.1.5. Sudut Pandang (Point of View)
          Adapun sudut pandang yang digunakan oleh pengarang dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah sudut pandang orang ketiga tunggal dimana pengarang menggunakan sapaan ibu-bapak. Ini dapat dilihat pada kutipan dialog-dialog bercetak tebal berikut :

Kakek    :    (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?
Nenek    :    Astaga! Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini?
Kakek    :    tidak kemana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca koran.
Nenek    :    mengapa membaca koran mesti pakai kopiah segala?
Kakek    :    Agar komplit, Bu
Nenek    :    yaaah. Waktu dulu kau jadi juru tulis, empat puluh tahun lampau. Tapi
      sekarang, kopiah hanya bernilai tambah penghangat belaka.
Kakek    :    (Berjalan menuju ke meja, mengambil koran, lalu pergi ke sofa, membuka
       lembarannya)

Dan pada dialog lain berikut

Kakek    :    Bagus!
Nenek    :    Apa maksudmu?
Kakek    :    Tindakan terpuji, itu namanya.
Nenek    :    He, apa sih maksudmu, Pak?
          Selanjutnya kedudukan tokoh adalah sudut pandang pengarang serba tahu di mana pengarang mengetahui segala seluk-beluk dan isi rumah, aktivitas nenek dan seluk-beluk kehidupan tokoh. Ini dapat dilihat pada narasi pengenalan cerita. Kutipannya yaitu:

“Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak di tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.
Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-bentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam”.

    3.1.6. Amanat

          Adapun amanat yang dapat diambil dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah seperti pada petikan dialog yang tercetak tebal berikut :

Kakek     :    Manusia harus menghayati hidupnya, bukan menghayati disiplin mati itu…
        doktrin-doktrin itu harus…harus…
Nenek    :     Suamiku, sudahlah nanti penyakit napasmu kumat lagi. Kalau kau terlalu semangat begitu…
Kakek    :     Kreatifitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep tetapi dengan merangsangnya…dengan menggoncangkan jiwanya agar tumbuh keberaniannya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang cuma meniru, meniru, meniru…(kakek rebah, nenek menjerit).
3.2.     Unsur Ekstrinsik
          Adapun unsur-unsur yang membangun naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto dari luar (unsur ekstrinsik) adalah memuat nilai-nilai sosio-politik. Nilai-nilai ini dapat dilihat pada kutipan-kutipan dialog yang tercetak tebal berikut :
Kakek    :    Aku ingin jadi diplomat yang diberi pos di kolong jembatan saja…
Nenek    :    Ah, gila. Itu pekerjaan gila.
Kakek    :    Banyak diplomat yang dikirim ke pos-pos manapun di dunia ini. Tapi pemerintah belum punya wakil untuk bicara-bicara dengan mereka yang ada di kolong jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka aku menyatakan diri. Maka aku menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini sebagai diplomat kolong jembatan.








BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
    Dari pembahasan tadi, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa
1)    Tema yang terdapat dalam dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah sosio-politik.
2)    Alur/Plot yang ada dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah alur maju.
3)    Tokoh dan penokohan. Tokohnya ada dua, yaitu kakek yang berwatak kritis, cerdas, realistis, dan peduli terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar dan nenek yang berwatak romantis, gengsi, cengeng,  takut kehilangan orang yang dicintainya, dan pemahamannya lambat.
4)    Latar/setting yang ada dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah di ruangan tengah rumah dan terjadi pada malam hari.
5)    Sudut Pandang yang digunakan dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah sudut pandang orang ketiga tunggal dan  pengarang serba tahu
6)    Amanat yang ada dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah Kreatifitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep tetapi dengan merangsangnya…dengan menggoncangkan jiwanya agar tumbuh keberaniannya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang cuma meniru, meniru, meniru…
4.2. Saran-saran
Adapun saran yang dapat saya berikan pada para pembaca adalah agar sekiranya makalah ini bisa dijadikan bahan acuan atau referensi untuk penganalisis drama berikutnya.















2 komentar:

  1. salam,
    sepasang merpati tua..ada naskah lengkapnya ga? sy berharap sekali anda sudi mengirimkannya kpada sy. ini alamat email sy : kusmawi_ipung@yahoo.com
    terima kasih,

    salam

    d. ipung kusmawi

    BalasHapus
  2. boleh juga ne . . . jgn lupa mampir di blog ane y . . .

    BalasHapus