Kamis, 07 Juni 2012

CONTOH ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN TANDA BACA & PENULISAN GELAR PADA KORAN KENDARI POS EDISI 14 FEBRUARI 2012

OLEH
ARWAHID

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr.Wb.
          Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga laporan kesalahan penulisan gelar pada koran ini dapat selesai tepat pada waktunya tanpa kendala yang terlalu berarti.
         Terimakasih pula penulis sampaikan kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan terkait laporan ini. Tan  btpa pembimbing mungkin laporan ini tidak dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dalam laporan ini masih banyak memiliki kekurangan, namun bukanlah kesalahan yang disengaja oleh penulis, melainkan kesalahan yang timbul akibat ketidaktahuan penulis. Terimakasih penulis ucapkan kepada teman-teman yang telah memberikan banyak saran dan pengetahuan yang terkait dengan laporan ini.
         Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga saran dan kritik dari penbaca yang sifatnya membangun sangat diharapkan.




Kendari, 27 Februari 2012


Penulis

BAB I  
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
          Berita dalam koran sangat membutuhkan kecepatan dalam penyajianya, sehingga tidak heran setiap saat penulis selalu menemukan aneka kesalahan berbahasa dalam tulisan koran. Kesalahan-kesalahan itu antara lain, menyangkut masalah ejaan dan tanda baca, kata dan frase, kalimat dan paragraf, teknik penulisan ilmiah, serta tidak jarang masalah pertalian bentuk dan makna. Bahasa koran banyak yang mengalami kerumpangan, misalnya tidak tepat penulisan huruf dan tanda bacanya, tidak lengkap kata dan frasenya, tidak efektif kalimatnya, dan tidak logis paragrafnya. Ada dua kecenderungan, mengapa para jurnalis melakukan kesalahan dalam berbahasa. Pertama, rupa-rupanya mereka kurang peduli terhadap bahasa dalam tulisannya sehingga dianggap angin lalu. Kedua, ada tanda-tanda nyata bahwa para jurnalis kurang menguasai kaidah penulisan kebahasaan.
          Koran merupakan salah satu media yang membantu pembelajaran bahasa Indonesia kepada masyarakat. Tata penulisan bahasa yang baik sebenarnya sangat dibutuhkan seperti halnya pada penggunaan kaidah-kaidah bahasa, penulisan tanda baca, pemilihan kata, penulisan unsur serapan dan sebagainya. Berita dalam koran sering melibatkan para pejabat birokrat, politikus, praktisi, maupun aparat negara sebagai objek pemberitaan. Beberapa objek berita tersebut ada yang punya gelar – baik titel akademik maupun non akademik – dan ada yang tidak. Beberapa koran lokal khususnya Kendari Pos terbukti selalu melakukan kesalahan menggunakan tanda baca dalam penulisan gelar misalnya tidak memberi titik.
1.2    Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dianalisis dalam laporan ini adalah bagaimanakah bentuk-bentuk kesalahaan pengunaan tanda baca dalam penulisan gelar pada koran Kendari Pos Edisi 14 Februari 2012?
1.3    Tujuan
          Adapun tujuan dari analisis ini adalah untuk mendeskripsikan kesalahan-kesalahan penggunaan tanda baca dalam penulisan gelar pada koran Kendari Pos, dan selanjutnya melakukan pembenaran atas kesalahan tersebut berdasarkan teori dan pendapat yang mendukung.
1.4 Manfaat
          Adapun manfaat yang diharapkan dari analisis ini adalah sebagai berikut:
1)    dapat menguak dan menyingkap kesalahan berbahasa dalam koran,
2)   dapat menjadi masukan bagi penerbit koran sehingga ke depannya tidak terjadi lagi kesalahan penggunaan tanda baca dalam penulisan gelar,
3)    dapat menjadi sumbangan pengetahuan dan  informasi bagi masyarakat.
1.5 Ruang Lingkup
          Karena banyaknya kolom pada koran Kendari Pos, agar analisis ini lebih terarah, maka hanya difokuskan pada analisis kesalahan penulisan gelar pada surat kabar Kendari Pos Edisi 14 Februari 2012 pada kolom Edukasi dan Politik.
1.6 Definisi Operasional
          Agar tidak terjadi penafsiran ganda, maka dalam analisis ini diberi batasan sebagai berikut:
1)    Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb) kemudian membetulkan kesalahannya jika terdapat kesalahan.
2)    Surat Kabar adalah lembaran-lembaran kertas bertuliskan berita dsb. misalnya koran, majalah, dll.
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Ejaan Bahasa Indonesia
          Poerwodarminta (1976) mendefinisikan ejaan sebagai cara atau aturan menuliskan kata-kata dengan huruf. Sementara itu, Tarigan (1985) menyatakan bahwa ejaan adalah cara aturan menulis kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu bahasa. Sedangkan ahli yang lain menyatakan bahwa ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, paragraf, dan sebagainya), dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca (Moeliono 1988). Adapun Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah yang termuat di dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 Tanggal 16 Agustus 1972 dan sekarang menjadi ejaan resmi bahasa Indonesia.
          Pengertian ejaan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi khusus dan segi umum. Secara khusus, ejaan dapat diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Sedangkan secara umum, ejaan berarti keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca (Mustakim 1992). Adapun beberapa aspek dalam kaidah kebahasaan yaitu sebagai berikut.
2.1.1 Aspek Fonologis
          Kaidah dalam aspek fonologis meliputi penulisan huruf, pelafalan (pengucapan), dan pengakroniman. Penulisan huruf menyangkut abjad, vokal, konsonan, diftong, persukuan, dan nama diri. Pelafalan atau pengucapan huruf juga termasuk hal penting dalam fonologis. Contoh pelafan yang salah misalnya, akhiran -kan bukan –ken. Kata diharapkan yang seharusnya dilafalkan [diharapkan] tetapi dilafalkan salah [diharapken]. Kata Bandung, mestinya dilafalkan [Bandung] tetapi dilafalkan salah menjadi [mBandung]. Timbulnya pelafalan yang tidak tepat ini, biasanya dipengaruhi idiolek seseorang, juga besar kemungkinan dipengaruhi oleh lafal bahasa daerah.

2.1.2 Aspek Morfologis
          Aspek morfologis ini menyangkut kata, baik pengimbuhan (afiksasi) penggabungan, pemenggalan, penulisan, maupun penyesuaian kosa kata asing. Kata dasar, kata turunan, kata ulang, gabungan kata-kata ganti, kata depan, kata si dan sang, partikel, penulisan unsur serapan, tanda baca, penulisan angka dan bilangan sangat penting untuk diperhatikan dalam ragam baku bahasa Indonesia. Kata dasar ditulis sebagai satu satuan. Kata turunan ditulis dengan beberapa ketentuan, misalnya : (1) imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya, (2) awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikutinya atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata, (3) kalau bentuk dasar berupa gabungan kata sekaligus mendapatkan awalan dan akhiran, kata-kata ditulis serangkai, (4) kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
          Hal yang berbeda dengan imbuhan adalah kata depan. Apabila imbuhan penulisannya harus serangkai dengan kata dasarnya, kata depan penulisannya harus dipisah. Kata depan itu, misalnya di dan ke. Penulisannya harus dipisah dengan kata yang mengikutinya.
2.1.3 Aspek Sintaksis
         Dalam ragam bahasa baku, aspek sintaksis ini meliputi frase, klausa, dan kalimat. Frase dan klausa merupakan bagian dari kalimat. Kalimat dikatakan baik apabila memiliki kesatuan pikiran/makna (kohesi) dan terdapat kesatuan bentuk (koherensi) di antara unsur-unsurnya. Begitu pula, kalimat dikatakan sempurna apabila mampu berdiri sendiri terlepas dari konteksnya, dan mudah dipahami maksudnya. Secara operasional, kalimat bahasa Indonesia yang baku mempunyai ciiri-ciri selalu dipakainya perangkat kebahasaan berikut secara tegas dan bertaat asas (Sugihastuti, 2000:82)
2.1.4 Aspek Paragraf
         Paragraf dalam bentuk tulisan/tuturan merupakan satuan informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya. Informasi yang disampaikan dalam kalimat/tuturan yang satu berhubungan erat dengan informasi yang dinyatakan dalam kalimat/tuturan yang lain dalam sebuah paragraf. Demikian pula antara paragraf yang satu dan paragraf lainnya haruslah mempunyai keterkaitan dan keserasian. Tanpa adanya keterkaitan maupun keserasian, informasi-informasi tersebut sulitlah dipahami makna komulatifnya. Oleh karena itu, kohesi dan koherensi berbahasa sangat memegang penting dalam logika berbahasa. Kohesi adalah kepaduan di bidang bentuk, sedangkan koherensi adalah kepaduan dibidang makna.
2.2 Penulisan Gelar
         Jika dianalisis kata per kata, penulisan gelar dapat dinalar melalui teori singkatan. Sebagaimana misalnya, penulisan gelar sarjana pendidikan, yang ditulis benar, Sarjana Pendidikan (S.Pd.), dan ditulis di belakang nama penyandang gelar. Huruf “S“ pada kata sarjana, ditulis dengan huruf besar dan diakhiri dengan tanda titik, merupakan satu kata. Kemudian, huruf “P” ditulis dengan huruf besar, tetapi huruf “D” ditulis dengan huruf kecil dan diakhiri dengan tanda titik. Huruf “D” ditulis dengan huruf kecil karena posisinya sebagai bagian dari rangkaian satu kata dengan huruf “P” yang merupakan kepanjangan dari kata “pendidikan”. Demikian pula singkatan-singkatan gelar lain yang sejenis dengan contoh tersebut, juga akan mengalami proses kebahasaan yang sama.
          Lain halnya dengan singkatan pada gelar yang tanpa menyertakan huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian satu kata. Sebagai misal, penulisan gelar sarjana hukum, sarjana ekonomi, dan sarjana pertanian. Jika disingkat, ketiga contoh gelar tersebut hanya terdiri dari huruf awal, dan tanpa menyertakan huruf peluncur yang merupakan bagian dari rangkaian kata, sehingga penulisannya pun terdiri atas huruf per huruf serta masing-masing ditandai dengan tanda baca titik. Dengan demikian, penulisan gelar sarjana hukum, ditulis di belakang nama penyandang gelar dengan singkatan: S.H., sarjana ekonomi ditulis S.E., dan sarjana pertanian ditulis S.P.. Penulisan-penulisan gelar lain yang sejenis dengan contoh tersebut, dan yang hanya terdiri dari dua huruf atau lebih tanpa disertai dengan huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian kata, harus mengikuti pola penulisan tersebut.
         Berikut ini contoh-contoh penulisan gelar yang benar.
Gelar Sarjana
S.Ag. (Sarjana Agama)

S.Pd. (Sarjana Pendidikan)

S.Si. (Sarjana Sains)

S.Psi. (Sarjana Psikologi)

S.Hum. (Sarjana Humaniora)

S.Kom. (Sarjana Komputer)

S.Sn. (Sarjana Seni)

S.Pt. (Sarjana Peternakan)

S.Ked. (Sarjana Kedokteran)

S.Th.I. (Sarjana Theologi Islam)

S.Kes. (Sarjana Kesehatan)

S.Sos. (Sarjana Sosial)

S.Kar. (Sarjana Karawitan)

S.Fhil. (Sarjana Fhilsafat)

S.T. (Sarjana Teknik)

S.P. (Sarjana Pertanian)

S.S. (Sarjana Sastra)

S.H. (Sarjana Hukum)

S.E. (Sarjana Ekonomi)

S.Th.K. (Sarjana Theologi Kristen)

S.I.P. (Sarjana Ilmu Politik)

S.K.M. (Sarjana Kesehatan Masyarakat)

S.H.I. (Sarjana Hukum Islam)

S.Sos.I. (Sarjana Sosial Islam)

S.Fil.I. (Sarjana Filsafat Islam)

S.Pd.I. (Sarjana Pendidikan Islam), dsb.

Gelar Magister

M.Ag. (Magister Agama)

M.Pd. (Magister Pendidikan)

M.Si. (Magister Sains)

M.Psi. (Magister Psikologi)

M.Hum. (Magister Humaniora)

M.Kom. (Magister Komputer)

M.Sn. (Magister Seni)

M.T. (Magister Teknik)

M.H. (Magister Hukum)

M.M. (Magister Manajemen)

M.Kes. (Magister Kesehatan)

M.P. (Magister Pertanian)

M.Fhil. (Magister Fhilsafat)

M.E. (Magister Ekonomi)

M.H.I. (Magister Hukum Islam)

M.Fil.I. (Magister Filsafat Islam)

M.E.I. (Magister Ekonomi Islam)

M.Pd.I. (Magister Pendidikan Islam), dsb.

Gelar Sarjana Muda Luar Negeri

B.A. (Bechelor of Arts)

B.Sc. (Bechelor of Science)

B.Ag. (Bechelor of Agriculture)

B.E. (Bechelor of Education)

B.D. (Bechleor of Divinity)

B.Litt. (Bechelor of Literature)

B.M. (Bechelor of Medicine)

B.Arch. (Bechelor of Architrcture), dsb.

Gelar Master Luar Negeri


M.A. (Master of Arts)

M.Sc. (Master of Science)

M.Ed. (Master of Education)

M.Litt. (Master of Literature)

M.Lib. (Master of Library)

M.Arch. (Master of Architecture)

M.Mus. (Master of Music)

M.Nurs. (Master of Nursing)

M.Th. (Master of Theology)

M.Eng. (Master of Engineering)

M.B.A. (Master of Business Administration)

M.F. (Master of Forestry)

M.F.A. (Master of Fine Arts)

M.R.E. (Master of Religious Ediucation)

M.S. (Mater of Science)

M.P.H. (Master of Public Health), dsb.

Gelar Doktor Dalam Negeri

          Penulisan gelar doktor dalam negeri pun sering tidak dipahami dengan benar oleh kebanyakan orang, padahal jika kita mampu menganalisis, tidaklah sulit untuk dapat menemukan jawabannya.
Penulisan gelar doktor dalam negeri sama dengan penulisan gelar-gelar yang lain. Karena huruf “D” dan “R” merupakan rangkaian satu kata, maka penulisan gelar doktor yang benar adalah: Dr. (Doktor), dan ditulis di depan nama penyandang gelar. Huruf “D” ditulis dengan huruf besar, dan huruf “R” ditulis dengan huruf kecil, dan diakhiri dengan tanda titik pula.
          Selain itu, di Indonesia juga memberlakukan sebutan profesional untuk program diploma. Aturan main penulisan sebutan profesional dalam negeri untuk program diploma ditulis di belakang nama penyandang sebutan.
BAB III
METODE PENELITIAN

          Metode yang baik akan menghasilkan analisis yang baik pula. Agar analisis ini memperoleh hasil yang optimal digunakan metode yang mencakupi empat hal, yaitu (1) Sasaran dan ancangan penelitian, (2) data dan sumber data, (3) metode pengumpulan data, (4) metode analisis data, dan (5) metode penyajian hasil analisis data.
3.1 Sasaran dan Ancangan Penelitian
          Dalam penelitian ini yang dikaji adalah penulisan gelar dalam koran Kendari Pos. Oleh karena. Ancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kesalahan berbahasa Indonesia sebagaimana yang digunakan para ahli bahasa (Ramlan, 1993; Sudaryanto, 1993; Sugihastuti, 2000).
3.2 Data dan Sumber Data
         Data penelitian ini meliputi kesalahan-kesalahan pada koran Kendari Pos pada kolom edukasi dan politik. Data penelitian ini terbatas pada data tertulis.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
         Ada dua tahapan yang dipakai dalam pengumpulan data penelitian ini. Tahap pertama adalah pengambilan data dari sumber data dengan cara dicatat. Dan tahap kedua penganalisisan data dan upaya pembenahannya.
         Pada tahap pertama dipergunakan metode pengamatan. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik membaca dan memahami data dengan teknik lanjutan dengan nonpartisipasi dan teknik pencatatan (Sudaryanto, 1988). Tahap selanjutnya menganalisis data secara mendetil sesuai kesalahan penggunaannya.
3.4 Teknik Analisis Data
 Teknik yang digunakan oleh penulis dalam menganalisis data yaitu dengan analisi kualitatif deskripti. Menganalisis tanpa menggunakan angka-angka namun menjelas secara mendetail.
BAB IV
PEMBAHASAN
         Berikut hasil analisis kesalahan penggunaan tanda baca dalam penulisan gelar pada koran Kendari Pos Edisi 14 Februari 2012  beserta pembenarannya.
4.1 Daftar Kesalahan dan Pembenaran Penulisan Gelar
Tabel 1
    Penulisan Gelar Yang Salah
1    Ir Mas’udi
2    Bosman MH
3    Prof Samsul
4    Drs Ansyari
5    Rosdiana SPd
6    Dr Nur Alim MPd.
7    H Suhufan Sag
8    H Nur Alam
9    Drs H Sardjum Mokke MPd
10   Drs Toni Herbiansyah
11  Prof Dr H Muh Yusuf Abadi SE MS
12    Ratmina SE
13   Arafat SE MM

Tabel 2
N    Pembenaran Kesalahan Tabel 1
1    Ir. Mas’udi
2    Bosman, M.H.
3    Prof. Samsul
4    Drs.  Ansyari
5    Rosdiana, S.Pd.
6    Dr. Nur Alim, M.Pd.
7    H. Suhufan, S.Ag.
8    H. Nur Alam
9    Drs. H. Sardjum Mokke, M.Pd.
10  Drs. Toni Herbiansyah
11  Prof. Dr. H. Muh Yusuf Abadi, S.E., M.S.
12  Ratmina, S.E.
 13 Arafat, S.E., M.M.

4.2 Analisis Kesalahan Penulisan Gelar
         Pada kolom politik yang menulis berita tentang “Pilwali Kendari Digelar 7 Juli” terdapat kesalahan penulisan gelar yang tampak sangat jelas yaitu seperti pada kalimat ke-2 paragraf dua berbunyi : Ir Mas’udi serta Korda Kota Kendari, Konsel dan Konut, Bosman MH. Penulisan gelar ini tidak tepat. Seharusnya
•    Ir. Mas’udi
•    Bosman, M.H.
Begitu pula pada kalimat ke-2 paragraf kelima terdapat kesalahan yaitu:
•    Prof Samsul Bahri, seharusnya
•    Prof. Samsul Bahri
Kesalahan diatas sebenarrnya cukup sederhana yaitu pada penulisan gelar yang disingkat seharusnya mengikuti kaidah yang telah ada. Seperti halnya gelar yang disingkat setelah penyingkatannya harus diberi tanda titik.
Pada kolom pendidikan juga ditemukan beberapa kesalahan yang sama yaitu pada penulisan berita yang berjudul “ Sentralisasi Pendidikan Lebih Baik.” Pada paragraf dua berturut-turut yaitu Drs Ansyari dan Rosdiana SPd. Adapun yang seharusnya
•    Drs. Ansyari
•    Rosdiana, S.Pd.
Kesalahan yang terjadi merupakan kesalahan penulisan gelar yang disingkat. Seperti di atas, penulisan SPd dikatakan tidak tepat karena SPd itu sendiri merupakan singkatan dari sarjana pendidikan. Singkatan yang ditetapkan yaitu S.Pd.
Selanjutnya, pada topik “STAIN Kendari akan Reuni dan Mubes Alumni” terdapat kesalahan yaitu sbb.
•    Dr Nur Alim MPd., penulisan yang seharusnya
•    Dr. Nur Alim, M.Pd.
Terdapat juga kesalahan yang sama pada beberapa tulisan berita dengan topik yang berbeda-beda yaitu :


•    H Suhufan SAg
•    H Nur Alam
•    Drs H Sardjum Mokke MPd
•    Drs Toni Herbiansyah
•    Prof Dr H Muh Yusuf Abadi SE MS
•    Ratmina SE
•    Arafat SE MM
Penulisan gelar semuanya merupakan penulisan yang tidak tepat yang terdapat pada beberapa tulisan berita. Adapun pembenarannya sebagai berikut.
•    H. Suhufan, S.Ag.
•    H. Nur Alam
•    Drs. H. Sardjun Mokke M.Pd.
•    Drs. Toni Herbiansyah
•    Prof. Dr. H. Muh Yusuf Abadi, S.E., M.S.
•    Ratmina, S.E.
•    Arafat, S.E., M.M.
 
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
           Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kesalahan tata bahasa yang terdapat dalam koran Kendari Pos Edisi 14 Februari 2012 kebanyakan berkisar pada penggunaan tanda titik untuk gelar , dimana para jurnalis koran ini selalu tidak membubuhkan tanda titik dalam menyingkat gelar akademik seseorang.
5.2 Saran
          Sebaiknya dalam menghasilkan tulisan, baik itu opini, jurnal, makalah, proposal, dll. kita harus memperhatikan tata cara penulisan. Oleh karena itu, penulisan harus disesuaikan dengan EYD agar hasilnya bias menjadi pembelajaran penulisan gelar pada pembaca.





















DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 1996. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:
       Balai Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Pedoman Umum Ejaan Bahasa
       Indonesia Yang Disempurnakan & Pedoman Umum Pembentukan
       Istilah. Bandung : Yrama Widya
Moeliono, Anton, Ed. 1988 a. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
       Balai Pustaka.
                            , Ed. 1988 b. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
       Jakarta: Balai Pustaka.
Mustakim. 1992. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum.
       Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Poerwodarminto, W J S. 1876. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:
       Balai Pustaka.
Ramlan, M. 1993. Paragraf: Alur Berpikir dan Kepaduannya dalam Bahasa
       Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset.
Sudaryanto. 1993. Metode Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University
       Press.
                 . 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Data. Pengantar
       Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Yogyakarta: Duta
       Wacana University Press.
Sugihastuti. 2000. Bahasa Laporan Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tarigan, H.G. 1985. Pengajaran Ejaan Bahasa Indonesia. Bandung:
       Angkasa.
                      . 1991. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
       Indonesia. Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar